Memperdebatkan siapa yang terbaik itu terkadang absurd. Hal itu berlaku hampir di semua hal, termasuk sepakbola. Siapa sih yang berani meragukan kualiatas bocah ajaib Argentina, Lionel Messi? Tapi apakah dia pantas meraih gelar Pemain Terbaik Dunia 2010 setelah 'gagal' bersama Argentina di Piala Dunia 2010 lalu? Apakah Andreas Iniesta yang lebih banyak cedera 2 musim lalu lebih pantas daripada Wesley Sneijder yang tampil gemilang sepanjang tahun mengantarkan Inter Milan meraih treble & Belanda menjadi finalis di Piala Dunia? (meski faktanya Iniesta menjadi tokoh penting Spanyol menjadi juara dunia). Lantas apakah Xavi Hernandez yang skill indvidunya jarang dipertontonkan di lapangan harus berada di balik bayang2 Messi, Ronaldo, Iniesta yang lebih suka unjuk kemampuan individu? Pertanyaan lain datang dari Inggris, apakah Gareth Bale layak jadi terbaik melebihi Luca Modric? Apakah Nani yang secara statistik gemilang tidak layak jadi yang terbaik? Apakah ini dan apakah itu? Bla... Bla... Bla... Banyak hal & contoh kasus lainnya yang bisa diperdebatkan.

Berbicara yang terbaik tentu secara langsung juga berbicara keadilan. Mengapa terbaik hanya berlaku buat mereka para penyerang & gelandang? mengapa pemain belakang & kiper sering menjadi pahlawan yeng terlupakan? Penyerang & gelandang memang punya peluang untuk membuat gol apa minimal memberi umpan, tapi apakah pujian untuk sebuah gol hanya layak ditujukan kepada pencetaknya? Jika sebuah tim menang, sang pencetak gol selalu menjadi primadona. Tapi hal kebalikan terjadi ketika sebuah tim kalah, kiper & bek adalah tersangka utama untuk dijadikan kembing hitam. Tak adakah keterkaitan antara gol yang dibuat pemain depan dengan solidnya lini belakang atau sebaliknya?


Setiap tahunnya, gelar pemain terbaik jatuh kepada para gelandang & penyerang. Saya mencatat hanya ada nama Paolo Maldini & Roberto Carlos yang pernah bersaing sebagai 3 terbaik, tapi harus puas di posisi runer up. Hal langka terjadi pada tahun 2006 ketika Fabio Cannavaro memenangkan gelar ini. Jika seorang bek saja tak mampu mendongkrak hegemoni para pemain menyerang, apalagi seorang penjaga gawang? Mungkin karena itulah kemudian muncul Golden Glove Award sejak tahun 1994 untuk menghapus diskriminasi buat para kiper. Seperti manghapus perbudakan, dimana kiper selalu jadi pemain yang bekerja keras membanting tulang ketika tim mereka diserang tapi tak pernah mendapat upah yang layak.


Potret penting yang saya ingin jadikan kasus adalah David Beckham. Dulu banyak yang mengatakan bahwa Beckham adalah pemain yang biasa2 saja. Kenapa? Apakah karena dia tak piawai dalam melakukan trik yang biasa dilakukan oleh pemain yang berdiri di posisinya (sayap kanan)? Apakah karena dia tak punya kecepatan seorang winger? Tapi apakah ada yang sadar bahwa adakah pemain sayap yang jago trik  itu memiliki umpan silang sesempurna David Beckham? Aaron Leenon cepat, tapi dia cuma bisa meliuk di sayap sambil berusaha menusuk dari sisi kanan. Bahkan seorang Nani hingga Cristiano Ronaldo saja tak memiliki kesempurnaan itu, meski mereka memiliki tehnik yang super.


Jadi berbicara tentang siapa yang terbaik itu memang ABSURD. Setiap orang punya pemikirannya sendiri2, dan silahkan tentukan siapa yang terbaik pilihan subyektif masing2, tanpa menghilangkan faktor data & fakta yang bisa dijadikan acuan untuk memperkuat opini tersebut :)

Who's Next?
Share
Labels: edit post
0 Responses

Posting Komentar